UPBERITA.COM – Pembicaraan mengenai Generasi Z sering kali disertai dengan sejumlah anggapan mengenai perubahan orientasi hidup. Generasi ini kerap dipersepsikan kurang tertarik memiliki rumah, lebih mudah berpindah pekerjaan, menunda pernikahan, serta tidak lagi menempatkan keluarga sebagai ukuran utama keberhasilan hidup. Jika dilihat dari perilaku yang tampak, anggapan tersebut memang tidak sepenuhnya mengherankan. Banyak anak muda memasuki usia akhir dua puluhan tanpa memiliki rumah sendiri, belum menikah, dan telah beberapa kali berpindah tempat kerja.
Namun, perilaku tersebut belum tentu menunjukkan bahwa Gen Z telah meninggalkan keinginan untuk hidup mapan. Persoalannya mungkin lebih kompleks. Ada perbedaan antara tidak menginginkan kemapanan dan belum mampu mencapai kemapanan pada usia yang sebelumnya dianggap ideal.
Temuan Ipsos dalam Generations Report 2026 memberikan gambaran yang cukup menarik. Berdasarkan survei terhadap 22.693 responden lintas generasi di 30 negara, aspirasi yang selama ini dianggap konvensional ternyata masih cukup kuat di kalangan Gen Z. Di antara Gen Z yang belum mencapai masing-masing tahapan tersebut, 70% memperkirakan akan memiliki pekerjaan penuh waktu yang stabil, 62% memperkirakan akan memiliki rumah sendiri, 55% memperkirakan akan menikah, dan 50% memperkirakan akan menjadi orang tua. Dengan demikian, pekerjaan, rumah, pasangan, dan keluarga belum kehilangan tempat dalam gambaran masa depan generasi muda.
Temuan tersebut penting karena mengingatkan kita agar tidak terlalu cepat menerjemahkan perubahan perilaku menjadi perubahan nilai. Ketika seseorang belum membeli rumah, hal itu tidak otomatis menunjukkan bahwa kepemilikan rumah tidak lagi penting baginya. Demikian pula, pernikahan yang dilakukan pada usia lebih tua tidak dengan sendirinya berarti bahwa institusi pernikahan kehilangan makna. Apa yang terlihat sebagai perubahan orientasi hidup dapat pula merupakan respons terhadap perubahan kondisi ekonomi, pasar kerja, maupun tuntutan kehidupan dewasa yang semakin kompleks.
Dalam konteks Indonesia, persoalan tersebut menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan perkembangan pendapatan dan biaya hidup. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa rata-rata upah buruh secara nasional meningkat dari Rp3,09 juta per bulan pada Februari 2025 menjadi Rp3,29 juta pada Februari 2026. Secara nominal, hal ini menunjukkan adanya peningkatan pendapatan pekerja. Namun, peningkatan pendapatan nominal tidak selalu identik dengan peningkatan kemampuan ekonomi dalam besaran yang sama. Kemampuan seseorang untuk mencapai kemapanan lebih banyak ditentukan oleh daya beli riil, yaitu seberapa besar pendapatan yang masih dapat digunakan setelah berbagai kebutuhan hidup dipenuhi.
Pada Agustus 2026, BPS mencatat inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 3,19%. Artinya, secara umum harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga masih mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini penting karena sebagian kenaikan pendapatan harus digunakan untuk menutup kenaikan biaya konsumsi. Dengan kata lain, pertambahan angka pada slip gaji belum tentu seluruhnya dapat diterjemahkan menjadi tambahan tabungan, investasi, atau kemampuan membayar cicilan rumah.
Tekanan kenaikan harga juga terlihat pada tingkat perdagangan besar. BPS mencatat bahwa Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) pada Agustus 2026 meningkat 6,18% secara tahunan. Sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga, antara lain beras, elpiji nonsubsidi, solar industri, dan minyak pelumas. Pada kelompok bangunan dan konstruksi, kenaikannya mencapai 9,52%, antara lain terkait dengan meningkatnya harga semen, pasir, aspal, baja tulangan, dan batu pecahan. Data ini tidak dapat disamakan secara langsung dengan inflasi konsumen karena keduanya mengukur tahapan harga yang berbeda. Namun, kenaikan harga input tetap relevan karena dapat meningkatkan biaya produksi, dan dalam kondisi tertentu, sebagian tekanan biaya tersebut dapat diteruskan ke harga pada tahap berikutnya.
Kondisi tersebut membantu menjelaskan mengapa kemapanan tidak cukup dianalisis hanya dari pertumbuhan pendapatan. Seorang pekerja muda dapat menerima kenaikan gaji, tetapi pada saat yang sama menghadapi kenaikan harga makanan, transportasi, sewa tempat tinggal, kebutuhan rumah tangga, dan berbagai pengeluaran lain. Jika kenaikan pendapatan sebagian besar terserap untuk mempertahankan standar hidup yang sama, ruang untuk mengakumulasi aset menjadi lebih terbatas. Dalam situasi seperti ini, persoalannya bukan semata-mata berapa besar pendapatan seseorang, tetapi berapa besar pendapatan yang dapat dikonversi menjadi tabungan dan aset setelah kebutuhan dasarnya terpenuhi.
Persoalan kepemilikan rumah menggambarkan kondisi tersebut dengan cukup jelas. Penelitian oleh Abidoye et al. (2020) terhadap anak muda di Jakarta menunjukkan bahwa keinginan memiliki rumah terutama didorong oleh kebutuhan yang bersifat praktis, seperti memiliki tempat tinggal serta mempersiapkan kehidupan pernikahan dan keluarga. Namun, keterjangkauan harga dan ketidakcukupan pendapatan menjadi hambatan utama dalam mewujudkan kepemilikan rumah. Dengan demikian, rendahnya kepemilikan rumah pada usia muda tidak tepat jika langsung dibaca sebagai menurunnya minat terhadap rumah. Bisa jadi keinginannya tetap tinggi, tetapi jarak antara pendapatan dan harga aset menjadi semakin sulit dijembatani.
Logika yang sama juga dapat digunakan untuk melihat kecenderungan anak muda menunda pernikahan. Keputusan untuk menikah lebih lambat tidak selalu berarti bahwa mereka tidak lagi menginginkan kehidupan keluarga. Bisa jadi, standar kesiapan untuk menikah memang berubah. Banyak anak muda sekarang ingin lebih dulu merasa cukup stabil secara finansial, menyelesaikan pendidikan, membangun karier, dan merasa lebih siap secara emosional sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Oleh karena itu, usia menikah yang semakin tinggi dapat dilihat bukan sebagai penolakan terhadap pernikahan, tetapi sebagai perubahan cara seseorang menentukan kapan dirinya benar-benar siap..
Fenomena berpindah pekerjaan juga tidak selalu tepat jika langsung dianggap sebagai tanda bahwa Gen Z kurang loyal. Keputusan untuk pindah kerja bisa jadi justru merupakan bagian dari usaha mencari kondisi yang lebih baik. Gaji tentu menjadi pertimbangan, tetapi bukan satu-satunya. Kesempatan berkembang, lingkungan kerja yang nyaman, keamanan kerja, hubungan dengan rekan kerja, hingga prospek karier juga dapat ikut menentukan. Oleh karena itu, ketika seorang pekerja muda memilih berpindah tempat kerja, belum tentu ia sedang menghindari stabilitas. Bisa jadi, ia justru sedang mencari pekerjaan yang dirasa lebih mampu memberikan kehidupan yang stabil dalam jangka panjang.
Dari sudut pandang ini, berpindah pekerjaan tidak selalu berarti seseorang sedang menjauh dari kehidupan yang stabil. Justru dalam kondisi tertentu, pindah kerja bisa menjadi cara untuk mencari kondisi yang lebih baik. Seseorang mungkin ingin mendapatkan penghasilan yang lebih layak, kesempatan berkembang yang lebih besar, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau arah karier yang lebih jelas. Jadi, keputusan untuk berpindah pekerjaan tidak selalu menunjukkan ketidakstabilan. Bisa jadi, langkah tersebut justru dilakukan untuk menemukan pekerjaan dan kehidupan yang dirasa lebih stabil dalam jangka panjang.
Cara melihat kehidupan yang stabil juga tampaknya mulai berubah. Dulu, karier yang stabil sering diartikan sebagai bekerja dalam waktu lama di satu tempat. Namun, bagi sebagian pekerja muda sekarang, stabilitas tidak selalu harus dicapai dengan cara seperti itu.. Bagi sebagian pekerja muda, berpindah kerja justru bisa menjadi cara untuk mendapatkan kehidupan yang lebih stabil. Mereka mungkin berpindah karena ingin memperoleh penghasilan yang lebih baik, pekerjaan yang lebih aman, kesempatan berkembang, atau kualitas hidup yang lebih nyaman. Jadi, tujuan yang ingin dicapai sebenarnya tidak selalu berbeda. Yang berubah adalah cara mereka mencapainya.
Oleh karena itu, melihat anggapan bahwa “Gen Z tidak mau mapan” terlalu menyederhanakan persoalan. Anggapan tersebut terlalu banyak melihat persoalan dari pilihan pribadi, padahal keputusan hidup seseorang juga sangat dipengaruhi oleh kondisi yang dihadapinya. Harga rumah, pendapatan, biaya hidup, peluang kerja, pendidikan, sampai kesiapan untuk menikah ikut menentukan kapan seseorang bisa mencapai kehidupan yang diinginkan.
Di sisi lain, kondisi ekonomi juga tidak bisa menjelaskan semua pilihan hidup Gen Z. Tidak semua anak muda memiliki tujuan yang sama. Ada yang memang memilih untuk tidak menikah, tidak memiliki anak, tidak membeli rumah, atau tidak menjadikan pekerjaan tetap sebagai ukuran keberhasilan. Pilihan hidup sekarang memang semakin beragam. Selain itu, perilaku seseorang juga tidak hanya dipengaruhi oleh generasinya, tetapi juga oleh usia dan tahap kehidupan yang sedang dijalani. Ipsos (2026) juga mengingatkan bahwa pengaruh generasi perlu dibedakan dari pengaruh tahap kehidupan.
Meski pilihan hidup Gen Z semakin beragam, ada satu hal yang tetap terlihat. Banyak dari mereka masih membayangkan pekerjaan yang stabil, rumah sendiri, pernikahan, dan keluarga sebagai bagian dari masa depan. Yang berubah bukan selalu tujuannya, tetapi waktu dan cara untuk mencapainya.
Dalam konteks Indonesia, kondisi ini juga tidak bisa dilepaskan dari pendapatan dan biaya hidup. Upah memang meningkat, tetapi harga berbagai kebutuhan juga ikut naik. Akibatnya, kenaikan penghasilan belum tentu membuat seseorang jauh lebih leluasa untuk menabung atau membeli aset. Bagi pekerja muda, kondisi seperti ini bisa membuat proses untuk membeli rumah, memiliki tabungan yang cukup, atau merasa siap membangun keluarga menjadi lebih panjang.
Mungkin pertanyaannya bukan lagi sekadar “Mengapa Gen Z belum hidup stabil?”, tetapi juga “Seberapa mudah pekerja muda bisa mencapai kehidupan yang stabil dalam kondisi ekonomi saat ini?”. Pertanyaan ini penting karena persoalannya tidak selalu terletak pada keinginan Gen Z. Banyak dari mereka masih menginginkan pekerjaan yang stabil, rumah sendiri, keluarga, dan kondisi finansial yang aman. Namun, untuk mencapai semua itu, mereka mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama dan usaha yang lebih besar.
Penulis : Erika Fajar Subhekti, Mahasiswa S3 Pengembangan SDM, Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga
