UPBERITA.COM – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat sebanyak 283.270 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terjadi akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode Agustus hingga 13 Oktober 2026. Angka tersebut tersebar di tujuh provinsi yang mencakup 63 kabupaten atau kota terdampak asap di seluruh Indonesia.
Dari total kumulatif tersebut, sebanyak 63.711 kasus di antaranya menyerang anak-anak pada rentang usia 0 hingga 5 tahun. Kalimantan Selatan tercatat menjadi wilayah dengan jumlah penderita tertinggi sebanyak 74.636 kasus, diikuti oleh Sumatera Selatan dengan 74.458 kasus.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Then Suyanti, menjelaskan bahwa paparan asap karhutla membawa partikel berbahaya seperti PM2.5, karbon monoksida, dan nitrogen dioksida yang memicu gangguan kesehatan serius. Asap tersebut dapat menyebabkan berbagai gejala klinis mulai dari batuk, pilek, sesak napas, hingga perburukan kondisi bagi penderita asma serta penyakit paru obstruktif kronis.
Selain pernapasan, paparan partikel asap juga berisiko meningkatkan gangguan pada kesehatan jantung serta pembuluh darah bagi kelompok rentan. “Tentunya kita harus menjaga kelompok rentan sebagaimana anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma/PPOK, maupun pekerja di luar ruangan,” ujar Suyanti pada Jumat (16/10).
Dampak Kesehatan Meluas
Permasalahan kesehatan akibat kabut asap ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga berdampak pada negara tetangga, Malaysia. Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan sebesar 10,43 persen dan peningkatan kasus konjungtivitis atau peradangan mata hingga 26,47 persen.
Pemerintah Malaysia mencatat peningkatan kasus pernapasan dari 3.509 kasus menjadi 3.875 kasus dalam rentang waktu satu minggu. Pihak otoritas kesehatan di sana terus memperkuat pemantauan penyakit terkait kabut asap dan mengimbau masyarakat untuk rutin memeriksa kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
