Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Level Rp 17.948 Akibat Tekanan Ekonomi Global

UPBERITA.COM – Nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan hingga menyentuh angka Rp 17.948 pada perdagangan hari Senin, 28 September 2026. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya tekanan ekonomi global yang diperburuk oleh lonjakan harga minyak dunia.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, posisi Rupiah pada penutupan Jumat, 25 September 2026 berada di level Rp 17.917. Sementara itu, pada awal perdagangan Senin pagi, mata uang Garuda tercatat melemah sebanyak 45 poin atau sebesar 0,25 persen dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp 17.903.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa kondisi ekonomi global saat ini berada dalam tekanan berat. International Monetary Fund (IMF) bahkan telah memberikan peringatan mengenai risiko perlambatan ekonomi dunia yang kian nyata.

Menurut Ibrahim, konflik yang melibatkan Iran serta gangguan pada pasokan energi global telah memicu kenaikan tekanan inflasi sejak Februari 2026, sebagaimana diungkapkan dalam riset hariannya pada Senin, 28 September 2026. Situasi ini memaksa berbagai bank sentral dunia untuk menaikkan suku bunga guna meredam laju inflasi.

Strategi Pemerintah Menstabilkan Rupiah

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia telah merumuskan lima langkah strategis untuk menjaga stabilitas Rupiah. Upaya tersebut meliputi optimalisasi pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan fiskal dan moneter yang terpadu serta penguatan sektor eksternal guna mengantisipasi gejolak perdagangan dan aliran modal asing.

Selain itu, otoritas terkait fokus pada pengelolaan likuiditas perekonomian nasional, pengendalian inflasi melalui koordinasi ketat antara pusat dan daerah, serta mempercepat pendalaman pasar keuangan. Langkah-langkah ini dilakukan untuk memperlancar transmisi kebijakan ekonomi sekaligus memperluas basis pembiayaan nasional.

Ibrahim menambahkan bahwa meski Rupiah menunjukkan pergerakan yang fluktuatif, mata uang nasional diprediksi akan ditutup pada rentang Rp 17.910 hingga Rp 18.000 per dolar AS. Koordinasi lintas lembaga menjadi kunci utama dalam meminimalisir dampak negatif dari ketidakpastian pasar global tersebut.

Berita Terkait

PT Multi Power Aditama Membangun Ekosistem Tambang yang Lebih Terpadu

redaksi

Emas Antam Merangkak Naik Capai Rekor Baru Hari Ini

redaksi

Pertamina Bantah Info Larangan Pembelian Pertalite Berdasarkan Merek Kendaraan

redaksi