Opini

Satu Tangan di Tengah Hujan

Ilustrasi

Oleh : Bintang Panji Ramadhan
NIM​: 1152400063

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Ilmu Komunikasi
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

 

Hujan turun sejak siang, mengguyur Surabaya dengan deras yang seolah tak kenal lelah. Air menggenang di sepanjang trotoar Jalan Ahmad Yani, memantulkan cahaya lampu kendaraan yang lewat dan menciptakan kilauan samar di tengah sore yang mulai kelam. Angin basah membawa aroma tanah yang baru basah bercampur bau asap knalpot dan daun basah. Bima berdiri di bawah atap halte bus yang bocor di beberapa titik, tas ranselnya sudah basah di bagian bawah. Magang di kantor redaksi hari itu membuat tubuhnya lelah; revisi naskah, rapat redaksi yang panjang, dan tekanan deadline seolah menumpuk tanpa jeda. Matanya berat, pikirannya masih berputar pada artikel yang belum sempurna.

Ia menatap ponsel. Tidak ada pesan yang menenangkan, hanya pengingat dari dosen tentang draf tugas Creative Writing yang masih kosong. Bus yang ditunggunya terlambat hampir dua puluh menit. Di seberang jalan, seorang lelaki tua berbaju kusam dan payung yang sudah sobek di beberapa tempat berusaha mendorong gerobak dorongnya. Roda gerobak itu macet di lubang genangan yang dalam. Beberapa kantong plastik berisi jajanan pasar bergoyang-goyang, hampir jatuh. Beberapa orang berlalu dengan terburu-buru, tidak ada yang berhenti. Suara klakson dan hujan menutupi semua.

Bima menghela napas panjang. Ia ingin cepat pulang, mandi air hangat, dan merebahkan diri di kamar kost. Tapi matanya tak bisa lepas dari lelaki itu yang hampir terpeleset. Tangannya yang keriput mencengkeram gagang gerobak dengan erat, tubuhnya miring karena usaha. Sejenak ia ragu. Apa urusannya? Ia sendiri juga lelah. Namun hatinya tidak tenang. Tanpa banyak berpikir, Bima berlari menyeberang, mengabaikan hujan yang langsung membasahi rambut dan kemejanya.

“Bapak, biar saya bantu,” katanya sambil menyambar salah satu sisi gerobak.

Lelaki tua itu menoleh. Wajahnya berkerut karena usia dan lelah, tapi senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Terima kasih, Nak. Sudah lama tidak ada yang berhenti untuk membantu begini. Orang-orang sekarang sibuk sekali. Semua buru-buru.”

Mereka mendorong gerobak bersama menuju tempat yang lebih tinggi, dekat warung yang masih buka dan terlindung atap. Air hujan menetes dari rambut Bima, kemejanya menempel di kulit. Bima bahkan mengeluarkan jas hujan lipat dari dalam tasnya dan memakaikannya ke bahu lelaki itu. “Pakai ini, Pak. Biar tidak kedinginan.”

“Nama saya Joko,” kata lelaki itu setelah gerobak aman di tempat kering. Ia mengelap wajah dengan lengan baju. “Sudah puluhan tahun saya jual jajanan ini. Dari pagi sampai sore. Istri saya sakit, anak saya kerja di luar kota. Kalau tidak jualan, tidak ada uang untuk obat dan makan. Dulu saya pernah jadi guru honorer, tapi gaji tidak cukup untuk keluarga. Sekarang, di usia yang sudah tua, saya masih harus berjuang.” Suaranya pelan, hampir tertelan suara hujan yang mulai reda.

Bima diam sejenak. Ia teringat pesan ibunya saat ia masih kecil: manusia itu saling menopang. Kalau tidak, kita jatuh sendiri-sendiri di tengah kesibukan yang tak pernah selesai. “Saya Bima, Pak. Mahasiswa Ilmu Komunikasi. Sedang magang di redaksi koran. Hari ini lelah sekali, tapi… ya, tidak enak lihat Bapak kesulitan.”

Pak Joko mengangguk pelan. “Anak muda sekarang banyak yang sibuk dengan dunia mereka sendiri. Ponsel, tugas, target, deadline. Tapi hatinya masih baik. Seperti kamu yang berhenti di tengah hujan, padahal basah semua.” Ia merogoh salah satu kantong plastik dan mengeluarkan sepotong kue lapis yang masih hangat, bungkusnya sedikit basah. “Ambil, Nak. Sebagai ucapan terima kasih. Rasanya sederhana, tapi dibuat dengan tangan sendiri pagi tadi. Istri saya yang mengajari resepnya dulu.”

Bima menerimanya dengan kedua tangan. Hujan sudah hampir berhenti. Lampu jalan mulai menyala, menerangi genangan yang tersisa seperti cermin kecil yang memantulkan langit kelabu dan siluet bangunan. Bus yang ditunggunya akhirnya datang, lampunya menyala terang, mengirimkan percikan air. Sebelum naik, Bima menoleh sekali lagi. “Pak Joko, hati-hati ya. Kalau butuh bantuan, saya sering lewat sini sepulang magang. Biasanya sore begini.”

Pak Joko tersenyum lagi, matanya berkerut. “Terima kasih, Nak. Semoga kuliahmu lancar. Jangan lupa istirahat. Jangan sampai lupa jadi manusia yang baik.”

Di dalam bus yang penuh dan pengap, Bima duduk di dekat jendela. Ia memakan kue lapis itu perlahan. Rasanya manis dan gurih, mengingatkannya pada rumah di kampung halaman, pada ibu yang selalu menyiapkan sesuatu yang hangat. Ia membuka catatan di ponsel dan mulai menulis. Bukan artikel magang tentang politik atau hiburan, melainkan potongan cerita tentang lelaki tua di tengah hujan. Tentang bagaimana satu tangan yang mengulurkan bisa mengingatkan seseorang bahwa kemanusiaan masih ada, bahkan di kota yang terus bergerak cepat dan orang-orang yang saling tidak mengenal.

Ia menulis tentang kelelahan yang dirasakannya sendiri, tentang keraguan apakah yang ia pelajari di kampus akan berguna, tentang tekanan magang yang membuatnya hampir lupa cara tersenyum, dan tentang senyum yang muncul di tengah genangan air. Di bagian akhir, ia menambahkan kalimat: di tengah kesibukan yang membuat kita lupa, masih ada momen kecil yang mengembalikan kita menjadi manusia bagi yang lain.

Malam itu di kamar kostnya yang sempit, Bima menyelesaikan naskah pendek. Lampu meja menyala redup. Di luar jendela, hujan sudah benar-benar berhenti. Lampu-lampu kota Surabaya menyala terang, memantul di aspal yang basah. Ia membaca ulang tulisannya, memperbaiki beberapa kalimat, menambahkan detail aroma hujan dan kehangatan kue. Bima tersenyum kecil. Esok hari ia akan kembali ke magang, ke tugas-tugas yang menumpuk, ke revisi yang belum selesai. Tapi malam ini, ia merasa sedikit lebih ringan. Karena di suatu sudut kota, seorang lelaki tua masih mendorong gerobaknya, dan di suatu tempat lain, ada tangan yang pernah berhenti untuk membantu.

Kemanusiaan, pikir Bima sambil menutup laptop, tidak selalu berupa perbuatan besar atau kata-kata muluk. Kadang ia hanya sepotong kue lapis di tengah hujan, atau satu langkah yang tidak kita sesali. Dan itu sudah cukup untuk mengingatkan bahwa kita masih saling membutuhkan, di kota yang terus bergerak, di hidup yang terus bergegas.

Berita Terkait

Perdebatan Fans Messi dan Ronaldo yang Seolah Nggak Pernah Usai

redaksi

Menyalakan Literasi Inklusif untuk Meraih Prestasi

redaksi

Gen Z : Mimpi Tetap Sama, Jalannya Tak Lagi Sama

redaksi