Oleh : M Iqbal Kurniawan
NIM 1152400003
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Kekalahan sebuah klub bola favorit mungkin terlihat sebagai hal yang biasa bagi sebagian orang. Apalagi bagi orang yang tidak terlalu mengikuti sepak bola, mungkin muncul pikiran, “Kan cuma klub bola, kok sampai diem atau bad mood?” Tapi kalau dilihat lebih dalam, sebenarnya ada pride yang ikut dipertaruhkan di sana. Kita memang bukan pemainnya, tidak ikut bermain di lapangan, bahkan para pemainnya mungkin tidak kenal dengan kita dan tidak tahu kalau kita hidup di dunia ini. Tapi anehnya, ketika klub yang kita dukung kalah, rasanya tetap seperti ada sesuatu yang ikut kalah bersama mereka.
Hal seperti ini sebenarnya sering terjadi di sekitar kita. Aku sendiri punya teman yang kalau klub favoritnya kalah, mood nya bisa langsung turun. Apalagi kalau setelah itu ada orang orang di sekitarnya yang ikut mencengin, termasuk aku. Padahal kalau dipikir-pikir, kekalahan klub tersebut sebenarnya tidak mengubah kehidupannya secara langsung. Dia tidak bermain, tidak menentukan strategi, dan tidak punya pengaruh terhadap hasil pertandingan. Tapi tetap saja, kekalahan itu bisa membuat suasana hatinya berubah.
Menurutku, hal tersebut terjadi karena mendukung sebuah klub bukan cuma soal menonton pertandingan. Ketika kita sudah benar-benar masuk ke dalam dunia sebuah klub, mengikuti pertandingannya, mengenal pemainnya, menunggu jadwal mainnya, sampai berharap mereka menang, lama lama muncul rasa memiliki. Kita seperti sudah menaruh hati di sana. Karena itu, ketika klub menang kita ikut senang, ketika bermain buruk kita ikut kesal, dan ketika kalah kita juga bisa ikut kecewa. Emosi kita seakan ikut berjalan bersama klub tersebut, meskipun kita hanya melihatnya dari layar.
Perasaan itu biasanya menjadi jauh lebih kuat ketika lawannya adalah rival. Kalah dari klub biasa saja sudah tentu mengecewakan, tetapi kalah dari rival membawa persoalan lain yaitu gengsi. Apalagi kalau rival tersebut berasal dari kota yang sama dan orang orang terdekat kita justru mendukung mereka. Kekalahan yang awalnya hanya soal tiga poin bisa berubah menjadi bahan pembicaraan dan bahkan bahan ejekan. Bagi fans, tentu rasanya berbeda ketika harus menerima kekalahan sambil melihat fans rival ikut merayakannya.
Pertandingan pun akhirnya tidak benar benar selesai ketika wasit meniup peluit panjang. Setelah game selesai, babak berikutnya justru bisa dimulai: ceng cengan. Bisa lewat media sosial, grup chat, tongkrongan, teman kampus, bahkan pasangan sendiri. Meme dan sindiran mulai bermunculan. Kalimat seperti “ku kira keras, ternyata kertas” atau “makanlah sedikit, nanti sakit” mungkin bagi yang membuat hanya sekadar candaan. Tapi bagi orang yang baru saja melihat klub favoritnya kalah, candaan seperti itu bisa terasa lebih menusuk. Apalagi kalau muncul berkali kali. Kekalahan yang tadinya terjadi selama 90 menit bisa terasa seperti diperpanjang oleh orang orang di sekitar kita.
Namun, menurutku, rasa kecewa seperti itu tidak selalu berarti seseorang terlalu fanatik. Ada perbedaan antara menikmati rivalitas dengan menganggap klub sebagai sesuatu yang harus dibela mati matian sampai mengorbankan hubungan dengan orang lain. Selama kita masih bisa menerima kekalahan, bisa tertawa ketika dicengin, dan memahami bahwa semuanya bagian dari sepak bola, menurutku rasa kesal atau bad mood setelah klub kalah masih merupakan hal yang wajar. Justru di situlah salah satu keseruan menjadi fans. Kita punya sesuatu yang bisa dibanggakan, sesuatu yang bisa dirayakan, dan tentunya sesuatu yang kadang bisa membuat kita kesal setengah mati.
Pada akhirnya, pertandingan sepak bola memang hanya berlangsung selama 90 menit. Tetapi bagi seorang fans, emosinya bisa berlangsung jauh lebih lama. Kita tahu bahwa kita hanya menonton pertandingan dan tidak punya kendali langsung terhadap hasilnya. Namun entah bagaimana, hasil tersebut bisa ikut menentukan seperti apa hari kita berjalan. Mungkin itulah salah satu hal yang membuat sepak bola menarik. Kita bisa tahu bahwa sebuah klub tidak mengenal kita secara pribadi, tetapi kita tetap bisa memberikan begitu banyak perhatian, waktu, bahkan perasaan kepada klub tersebut. Dan mungkin, selama kita masih bisa menikmati semuanya tanpa berlebihan, tidak ada yang salah dengan sedikit ikut “kalah” ketika klub kesayangan kita kalah.
